Kamis, 13 Juni 2013

Membangun Team Sales Yang Tangguh!



Menjadi seorang Sales Manager yang bisa memotivasi team memang membutuhkan keahlian tersendiri.

Banyak sales person yang handal dalam bernegoisasi, tapi kurang handal ketika memimpin sebuah team dan  membentuk serta memotivasi teamnya agar bisa menjadi sales person yang ahli dalam hal jualan atau negoisasi

Mungkin hal tersebut terjadi karena salah satunya adalah cara berkomunikasi seorang sales manager  yang hanya sebatas menekan dan mengejar. Bisa kita katakan kemungkinan besar cara tersebut kurang  tepat.

Lalu bagaimana agar kita mampu memberikan arahan, knowledge sekaligus bisa memotivasi para sales person?Bagaimana tujuan kita sebagai pimpinan sebuah team penjualan tercapai dengan dukungan team? 

Seiring pengalaman, ada beberapa prinsip memimpin dan memotivasi sales person, yaitu:

1. Pimpinan rapat penjualan sama ketika kita sedang di hadapkan kepada klien. Segalanya berbicara,  bahasa tubuh, dan posisikan bahwa team kita adalah seorang klien yang ingin membeli product kita..bersemangat lah ketika kita mempresentasikan program2 yg akan kita jalani bersama team agar program tersebut bisa di terima dan di jalankan oleh anggota team

2. Gunakan aspek TUJUAN. Kita yakini bahwa semua yang kita akan jalani bersama team memiliki sebuah tujuan, sales person diberi tahu apa tujuan mereka mengejar target penjualan dan tujuan kita membimbing mereka, serta di jelaskan apakah tujuan materi , arahan serta knowlegde penjualan itu kita berikan kepada team.

3. Berbagi Pengalaman menuju konsep kesempurnaan. Dari pengalaman yg pernah kita hadapi dan sales person itu sendiri akan diperoleh banyak konsep. Penggabungan wacana serta konsep akan mejadi sebuah landasan, pola pikir serta kesempurnaan konsep penjualan di lapangan.

4. Pengakuan. Setiap usaha yg telah di kerjakan anggota team , sekecil apapun kontribusinya HARUS  dihargai.

5. Penghargaan dan Peringatan
 jika memang layak seorang anggota team untuk diperingati maka, layak pula anggota team yang berhasil untuk diberikan penghargaan, kita harus memberi pujian pada sales person yang terlibat aktif pada pencapaian target kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan, berkata: Juara kita minggu ini..,Good Job dll.

Intinya, memimpin sekaligus memotivasi harus memenuhi prinsip Kebutuhan, Kemasan, dan Kebersamaan (3K).

Yang dimaksud dengan K yang pertama (Kebutuhan) adalah bagaimana kita sebelum memimpin team maka sebaiknya mengetahui apa yang dibutuhkan sales person itu sendiri

Sampaikan materi meeting dengan beranjak dari apa yang dibutuhkan sales person lebih dahulu.

Bahkan kalau bisa kita sampaikan bahwa hal yang kita sampaikan akan memenuhi kebutuhannya maka Sales person akan yakin bahwa support yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya dan  mereka akan berusaha melakukan sebuah perubahan dengan baik.

Untuk mengetahui kebutuhan sales person banyak caranya. Bisa dengan bertanya langsung kepada mereka, menyebarkan polling, atau dengan memperhatikan topik dominan yang mereka bicarakan.

Namun pada umumnya, kebutuhan sales person adalah pencapaian target dan angka penjualan mereka sendiri. Orang sales dominan dengan kebutuhan materi. Dan hal itu bisa di capai melalui komisi, poin, Bonus dari hasil penjualan.

K yang kedua adalah Kemasan. Bagaimana kita dapat menyampaikan pesan dengan kemasan yang menarik. Misalnya, menggunakan cerita, potongan film, permainan (games), humor, tempat yang dihias, dan lain-lain. Kemasan yang variatif dan eye catching akan membuat sales person terpesona dan ‘terpaksa’ memusatkan perhatian pada apa yang kita sampaikan. Kalau bisa variasikan kemasan sedemikian rupa, sehingga ketika sales person sudah bosan dan menurun daya konsentrasinya, kita segera beralih ke gaya kemasan yang berbeda. Kata kunci mengemas materi adalah kretaivitas sales manager yang tidak ada habis-habisnya.

K yang ketiga adalah Kebersamaan. Maksudnya, materi yang menarik dan memotivasi sales person adalah materi yang tidak analog (searah) dari atasan saja.
Beri kesempatan kepada sales person untuk berpartisipasi menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya.

Sales person harus diajak aktif untuk berbicara dan bergerak. Jangan terpaku dan monoton memperhatikan sales managernya saja.
Kata kunci dari kebersamaan adalah toleransi sales manager untuk memberi kesempatan kepada sales person untuk aktif.

Jika kita melakukan ketiga prinsip di atas (Kebutuhan, Kemasan, dan Kebersamaan) secara rutin, niscaya cara kita memimpin akan berubah dari biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang telah anda lakukan sampai hari ini dalam dalam membangun team penjualan yang tangguh?

Nikmati terus sajian khas berselera Secangkir kopi ala Ali Busro , Berbagai motivasi, tips dan trik seputar dunia penjualan, Radio dan dunianya , info product dan promosi serta berbagai cerita pengalaman sukses dari orang orang terkenal. Semua di rangkum di dalam Alibusro.blogspot.com…

Selamat menjalani hari , Selamat Berjualan

Belajar Mengatasi Rasa Takut

Semua orang pernah mengalami rasa takut.  Tetapi dalam perkembangannya, rasa takut itu ternyata bermacam-macam alasan dan manifestasinya.
Setiap anak kecil, biasanya takut gelap.  Kadang itu juga karena ditakut-takuti orang dewasa yang mengasuhnya.  Gelap itu “ada setan”.  Kalau nakal nanti dikunci di gudang yang gelap.  Ini takut yang sifatnya mithycal.  Mungkin berfungsi mencegah anak nakal, tetapi sebenarnya tidak baik.
Anak yang pernah kepleset atau tangannya kegores benda tajam akan takut mengalaminya lagi.  Sakit.  Maka dia akan hati-hati.  Ini takut yang sifat fisikal-rasional.  Sepertinya positif, asal tidak lalu paranoid saja, misalnya anak jadi tidak berani jalan sendiri di kamar mandi atau tidak berani pegang pisau.
Anak juga biasanya takut ditinggal ibunya pergi terlalu lama.  Ini takut yang sifatnya relasional (hubungan personal).  Di masa dewasa, tidak ada orang yang tidak takut ditinggalkan orang yang dicintainya, baik kawan, pasangan atau anak.
Anak juga takut tidak kebagian oleh-oleh kalau ibunya pulang.  Ini takut yang sifatnya material.  Kelak kalau dewasa, orang takut tidak kebagian proyek, atau orang lain naik gaji dia tidak naik gaji sendiri.
Dan yang paling ditakuti anak adalah takut dimarahi kalau salah.  Akibatnya dia sering menyembunyikan kesalahan itu.  Ini takut yang sifatnya juridical (hukuman pelanggaran).  Dampaknya bisa dua: anak jadi hati-hati agar tidak salah, atau anak lalu belajar berbohong.  Misalnya, dia bangun kesiangan, sehingga kalau sholat shubuh sudah di luar waktunya.  Ketika ditanya, dia bisa saja berbohong, bahwa dia tadi pagi sudah sholat terus tidur lagi.  Karena dia tahu bahwa kalau ngomong apa adanya, dia bisa dimarahi, atau bahkan dihukum tidak boleh nonton kartun seminggu.  Kalau ini berlarut hingga dewasa, dia akan belajar untuk berpura-pura, hidup dalam sembunyi pencitraan.
Ketika sang anak sekolah, dia menghadapi beberapa rasa takut yang baru. 
Kepada gurunya, dia takut datang terlambat.  Takut tidak bikin PR.  Takut tidak mengenakan kostum seragam yang seharusnya.  Takut menjawab soal dengan jawaban yang tidak standard dari gurunya.  Akibatnya kreatifitas anak pelan-pelan akan terpasung.  Pada akhir masa sekolahnya, rata-rata anak akan takut pada ujian.  Apalagi ujian nasional.  Ini rasa takut yang sifatnya hierarchical, karena di sekolah, guru adalah boss, dan sekolah adalah laksana negara adikuasa.
Kepada teman-temannya, anak yang relatif lemah takut dibully, yaitu diancam akan dikucilkan oleh kawan-kawannya yang merasa kuat, atau bahkan diancam dengan kekerasan kalau tidak memenuhi “agenda kelompok”, misalnya iuran untuk makan-makan, bagi-bagi contekan, atau bersetiakawan dengan kawannya yang ada masalah dengan anak kelompok lain (dalam arti: berpartisipasi pada tawuran!).  Ini sifat takut yang sifatnya sosial.
Buntut kalau orang takut seperti ini akan terbawa sampai dewasa.  Dia akan sangat ketakutan kepada hierarki di organisasinya.  Dia takut mempertanyakan relevansi sebuat aturan, atau kompetensi atasannya.  Dia juga takut dirinya dikucilkan karena berbeda.  Padahal boleh jadi, orang itu memang berbeda karena dia juara!
Kalau anak harus pindah sekolah atau bahkan sekolah di kota lain, dia akan mengalami ketakutan berikutnya.  Ini rasa takut adaptasional.  Takut harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, orang yang baru, persoalan yang baru.  Mereka yang mampu melampaui fase ini akan relatif mudah nantinya menghadapi perkembangan zaman.
Kalau anak beranjak remaja atau dewasa, lalu terjun ke masyarakat, dia akan menghadapi rasa takut yang lain.
Ini sudah terkait takut yang bersifat tanggungjawab sosial.  Misalnya, anak takut menikah, karena takut mengecewakan calon istrinya, bahwa dia bukan manusia sempurna.  Atau takut mengimami jama’ah sholat, khawatir nanti kentut dan jama’ah bisa bubar.
Anda mau berbagi jenis takut yang lain?
Dan bagaimana cara mengatasinya?
Di atas semua ini, memang ada rasa takut yang unik.  Karena takutnya ini kepada sesuatu yang tidak kelihatan, tetapi diyakini ada, dan bukan mithical seperti takut gelap.  Misalnya takut ketinggalan sholat berjama’ah, takut termakan makanan yang haram, takut kelihatan auratnya, takut mati dalam keadaan bermaksiat, takut mati dalam keadaan masih meninggalkan utang, takut belum sempat memberikan nasehat pada orang yang seharusnya diberikan nasehat, dan sebagainya.  Ini saya kira takut taraf tertinggi, yakni takut yang sifatnya spiritual.  Sepertinya hanya takut yang terakhir ini yang tidak perlu diatasi, tetapi malah justru ditanamkan.

Hari Buruh Sedunia


1 Mei di seluruh dunia
Buruh merayakan “kemenangannya”
demonstrasi dan pawai di jalan-jalan raya
tak terlalu peduli dengan akibat kemacetannya.
1 Mei di seluruh dunia
Buruh mengeluhkan berbagai persoalannya
Batalkan kenaikan harga BBM, salah satu tuntutannya
Hapuskan Outsourcing dan tegakkan UMP, lanjutnya.
1 Mei di seluruh dunia
Para pengusaha semaking pusing kepala
Kenaikan harga BBM membuat mereka juga tersiksa
Terus dengan tuntutan buruh? Wah mending bubar saja!
Wahai kaum buruh, wahai kaum pengusaha!
Belum sampaikah berita tanpa kepentingan kepada Anda?
Bahwa penyebab derita ini adalah kapitalisme yang menggurita,
yang kokoh di atas fondasi sekulerisme tak kenal Sang Pencipta,
Karena Sang Pencipta konon ‘diusir ke tempat yang mulia saja’,
sedang Demokrasi menggantikannya mengatur urusan dunia.
Wahai kaum buruh, wahai kaum pengusaha!
Mari kita bersatu menjadikan syari’ah solusinya!
Syariah hubungan industrial dan upaya mensejahterakan bangsa,
karena Allah dan Rasul meninggalkannya dengan amat sempurna,
selama kita tahu siapa saja yang harus menerapkannya,
yaitu individu, kelompok, dan Khilafah sebagai negara!

Selasa, 11 Juni 2013

Contoh dan Definisi Distribusi

1. Pengertian Distribusi
Anda pasti pernah melihat seseorang yang memikul barang tertentu untuk ditawarkan kepada pembeli, contoh seperti tukang sayur, tukang bakso. Kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut merupakan kegiatan distribusi.
Distribusi artinya proses yang menunjukkan penyaluran barang dari produsen sampai ke tangan masyarakat konsumen. Produsen artinya orang yang melakukan kegiatan produksi. Konsumen artinya orang yang menggunakan atau memakai barang/jasa dan orang yang melakukan kegiatan distribusi disebut distributor.
Distribusi merupakan kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan produksi dan konsumsi. Berkat distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat setelah dapat dikonsumsi.
Dari apa yang baru saja diuraikan, tampaklah bahwa distribusi turut serta meningkatkan kegunaan menurut tempatnya (place utility) dan menurut waktunya (time utility).

DISTRIBUSI


Konsumen adalah seseorang yang membutuhkan barang, dan produsen merupakan orang yang membuat barang, dikarenakan jarak kemungkinan kegiatan ekonomi akan terganggu. Oleh karena itu, dibutuhkan penyalur barang yang disebut distribusi

1.         DEFINISI DISTRIBUSI
Para pedagang menjual barang ke konsumen, para pedagang inilah yang disebut distributor.Kegiatan inilah yang disebut distribusi. Distribusi yaitu rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan usaha penyampaian/penyaluran barang atau jasa produsen kepada konsumen. Sedangkan orang yang melakukan distribusi disebut ditributor.

2.         TUJUAN DISTRIBUSI
Apabila kegiatan distribusi berhenti penyaluran barang tidak akan berjalan lancar dan harga barang-barang di daerah konsumen menjadi meningkat. Jadi kebutuhan tidak dapat terpenuhi dan masyarakat menjadi resah. Demikian produsen barang-barang akan menumpuk dan tidak laku produsen pun akan bangkrut. Distribusi bertujuan untuk:
a.         Pemerataan pemenuhan masyarakat di berbagai daerah,
b.         Menstabillkan harga barang/jasa,
c.         Menjaga kelangsungan hidup perusahasaan,
d.         Menjaga kesinambungan kegiatan produksi, serta
e.         Mempercepat sampainya produksi ke tangan konsumen

3.         SISTEM DISTRIBUSI DAN CARA DISTRIBUSI
Dalam melakukan distribusi, diperlukan sistem yang tepat. Berikut diuraikan macam-macam sistem distribusi serta cara pendistribusian di masyarakat.
A.        Sistem distribusi
Sistem distribusi adalah usaha yang ditempuh produsen maupun distributor melalui unsur-unsur yang terkait dalam penyaluran barang atau jasa agar sampai ke konsumen. Sistem distribusi dapat di bedakan menjadi 3 macam
1.         Distribusi langsung
Sistem distibusi langsung yaitu menjual atau menyalurkan barang maupun jasa secara langsung misalnya patani sayur menjual sayrunya tanpa menggunakan pedagang, dokter menjual jasanya langsung kepada pasiennya di tempat praktek jadi produsen langsung berhubungan langsung dengan konsumen.

Produsen

konsumen
Sistem distribusi langsung
          
2.       Sistem distribusi semi langsung
Pada sistem distribusi ini produsen menjual hasil produksinya melalui toko miliknya sendiri

Sistem distribusi semi langsung
produsen

Toko milik produsen

konsumen
 
3.       Sistem distribusi tak langsung
Sistem distribusi tak langsung, yaitu produsen menjual barang atau jasa hasi produksinya ke konsumen melalui lembaga atau pedagang perantara misalnya melalui agen, pedagang besar atau grosir, dan pedangang eceran.

Sistem distribusi tak langsung
produsen

konsumen

pengecer

agen
 
B.        Cara-cara Distribusi
Untuk menyalurkan barang/jasa digunakan badan perantara. Yaitu :
1.         Penyaluran Barang/Jasa Melalui Pedagang.
Barang yang dibuat produsen disalurkan melalui pedagang besar, lalu pedagang besar menjualnya ke pedagang kecil atau eceran dan pedagang kecil menjualnya ke konsumen.
2.       Penyalur Barang/Jasa Melalui Koperasi
Koperasi berusaha memenuhi kebutuhan anggotanya/masyarakat disekelilingnya.
3.       Penyaluran Barang/Jasa Melalui Toko Milik Produsen Sendiri.
Produsen yang memiliki toko, dapat memenjual hasil produksinya kepada konsumen melalui toko tersebut.
4.       Penyaluran Barang/Jasa melalui penjualan Dari Rumah Kerumah.
Barang hasil produsen dijual oleh produsen dengan cara berkeliling dari rumah kerumah.
5.       Penyaluran Barang/Jasa Melalui Penjualan di Tempat Tertentu yang Ditetapkan Pemerintah.
Pemerintah juga membuat tepat untuk menyalurkan barang atau jasa hasil produksi tertentu, misalnya pasar, dan tempat pelelangan ikan.
6.       Tempat Lain yang Dipakai untuk Menyalurkan Barang/Jasa
Ada faktor yang mempengaruhi produsen memilih dan menentukan saluran distribusi, yakni:
a)         Sifat barang dan Jasa yang diperjualkan.
b)         Daerah penjualan
c)         Modal yang disediakan, yang berkait dengan hak dan kewajiban dalam perjualan barang.
d)         Alat komunikasi
e)         Biaya angkutan
f)          Keuntungan